More results...

Generic selectors
Cari yang sama persis
Cari berdasarkan judul
Cari berdasarkan konten
Post Type Selectors
Filter by Categories
Bangka Belitung
Berita Indragiri Hilir
Berita Kriminal
Berita Kuansing
Catatan Muslim
Daerah
Edukasi
Hiburan
Internasional
Investigasi
Jakarta
Kabupaten Gunung Kidul
Kabupaten Indragiri Hilir
Kabupaten Indragiri Hulu
Kabupaten Kampar
Kabupaten Karimun
Kabupaten Kepahiang
Kabupaten Kuantan Singingi
Kabupaten Lahat
Kabupaten Lahat Online
Kabupaten Pelalawan
Kabupaten Rokan hilir
Kabupaten Siak
Kesehatan
Kota Batam
Kota Dumai
Lampung Barat
Maluku
Maluku Utara
Narasi dan Opini
Nusa Tenggara Barat (NTB)
Nusa Tenggara Timur (NTT)
Papua
Provinsi Aceh
Provinsi BALI
Provinsi Banten
Provinsi Bengkulu
Provinsi DIY
Provinsi Jambi
Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Tengah
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Kalimantan Selatan
Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kepri
Provinsi Lampung
Provinsi Riau
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Tengah
Provinsi Sulawesi Tenggara
Provinsi Sulawesi Utara
Provinsi Sumatera barat
Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatra Utara
Sejarah
Video
Yogyakarta

Ada Apa dengan Isu RENDANG BABI? Ini Dia Pembahasan Yang Logis

Oleh: Jonru Ginting • Isu RENDANG BABI sudah viral sejak beberapa hari lalu. Tapi saya sejak awal menahan diri untuk tidak membahasnya. Kenapa? Karena setelah saya menyimak pendapat yang pro maupun yang kontra, menurut saya tidak ada di antara mereka yang 100 persen benar atau 100 persen salah.

Rendang babi ini, menurut saya, merupakan isu yang rumit. Menyangkut berbagai macam aspek yang sifatnya bukan sekadar masalah BENAR atau SALAH.

(1) Dari segi tinjauan hukum, si pembuat dan penjual rendang babi tidak melanggar hukum apapun. Sebab sah-sah saja bagi setiap orang untuk membuat modifikasi terhadap masakan apapun.

Yang tidak boleh dilakukan SECARA HUKUM adalah:

– Penipuan. Misalnya dipublikasikan sebagai rendang sapi, tapi ternyata isinya babi.

– Memodifikasi menu makanan yang bahan-bahannya sudah dipatenkan dan tidak boleh diubah oleh siapapun.

Jadi kalau MISALNYA rendang sudah dipatenkan sebagai masakan yang harus pakai daging sapi, maka tidak boleh diganti dengan daging apapun selain daging sapi. Bahkan rendang ayam atau rendang jengkol pun tidak boleh. Karena sudah dipatenkan.

(2) Dari segi budaya: Pihak yang kontra berpendapat bahwa rendang adalah makanan khas Minang, dan orang Minang punya falsafah hidup “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, yaitu menjadikan ajaran Islam sebagai satu satunya landasan dan atau pedoman tata pola perilaku dalam berkehidupan.

Artinya: Rendang babi sangat bertentangan dengan falsafah tersebut.

Saya bukan orang Minang dan tidak mau sembarangan memberikan pendapat mengenai falsafah tersebut. Takut salah ngomong, hehehe….

Namun ada satu pertanyaan yang menggelitik pikiran saya: Misalnya ada orang Kristen yang suka banget pada masakan rendang, dan kebetulan dia punya restoran. Lalu dia membuat masakan rendang pakai daging babi. Apakah itu salah?

Dari segi hukum, di atas sudah dijelaskan bahwa itu tidak salah.

Lalu dari segi budaya, apakah orang ini menghina budaya minang, bahkan menghina ajaran Islam?

Nah, pertanyaan inilah yang TERUS TERANG membuat saya bingung. Sebab tiba-tiba saya teringat pada salah satu masakan favorit orang Indonesia, yakni BAKSO.

Bakso adalah makanan khas dari China, yang aslinya dibuat dari daging babi. Lalu ketika masakan ini dibawa ke Indonesia, diubahlah daging babi tadi menjadi sapi. Dan tak ada orang China yang protes.

“Orang China tidak protes, karena bakso tidak identik dengan budaya dan agama tertentu,” ujar seorang teman.

“Hm… masuk akal juga. Berarti rendang identik dengan budaya dan agama tertentu?”

“Iya,” jawab si teman. “Ini berhubungan dengan falsafah orang Minang.”

“Lalu bagaimana dengan pendapat kaum Islamophobia yang berkata bahwa makanan tidak punya agama?”

“Itu pendapat yang ngawur. Coba mereka disuruh bikin nasi biryani pakai daging sapi dan dijual di India. Pasti masyarakat Hindu di India akan marah.”

“Hm, iya juga. Tapi kemarahan mereka beda konteks dengan kemarahan masyarakat Indonesia terhadap rendang babi.”

“Bedanya di mana?”

“Masyarakat Indonesia marah karena daging yang digunakan tidak halal, dan itu dianggap menghina falsafah orang Minang. Masyarakat India marah karena tuhan mereka dijadikan menu pada makahan khas mereka. Dan dijual di lingkungan mereka pula. Beda konteks, kan?”

“Iya, beda konteks, tapi intinya tetap marah, kan?”

Tapi jika misalnya nasi biryani sapi dijual di kalangan tertentu saja, dan tidak pernah dipublikasikan ke publik, apakah ini akan jadi masalah juga?

Selama tidak ada yang memviralkannya, pasti masyarakat umum tidak akan tahu, sehingga mereka tak mungkin mempermasalahkannya.

Nah, berarti masalah ini sudah clear. Yang salah adalah orang yang memviralkan.”

“Iya, benar juga. Tapi kan sekarang sudah terlanjur viral. Orang yang membuat dan menjual rendang babi sekarang jadi takut. Gimana, dong?”

“Ya, tak perlu takutlah. Mereka tinggal ubah namanya, jika perlu resepnya dibikin agak beda sehingga tidak sama persis dengan rendang yang asli. Ini bertujuan untuk menghormati falsafah orang Minang, dan mereka tetap bebas menikmati makanan yang mereka sukai.

Dan yang paling penting, tak perlu diviralkan. Sebab setelah saya menganalisis berbagai hal, juga setelah menyimak pendapat yang pro dan kontra, menurut saya yang paling bersalah pada isu ini adalah mereka yang memviralkan. Kurang kerjaan, atau karena ada tujuan terselubung, entahlah!

Jakarta, 16 Juni 2022

Klik tombol tindakan dibawah sesuai pilihanmu untuk membagikan informasi ini!
INVESTIGASI 86 di Google News