More results...

Generic selectors
Cari yang sama persis
Cari berdasarkan judul
Cari berdasarkan konten
Post Type Selectors
Filter by Categories
Bangka Belitung
Berita Indragiri Hilir
Berita Kriminal
Berita Kuansing
Catatan Muslim
Daerah
Edukasi
Hiburan
Internasional
Investigasi
Jakarta
Kabupaten Gunung Kidul
Kabupaten Indragiri Hilir
Kabupaten Indragiri Hulu
Kabupaten Kampar
Kabupaten Karimun
Kabupaten Kepahiang
Kabupaten Kuantan Singingi
Kabupaten Lahat
Kabupaten Lahat Online
Kabupaten Pelalawan
Kabupaten Rokan hilir
Kabupaten Siak
Kesehatan
Kota Batam
Kota Dumai
Kota Manado
Lampung Barat
Maluku
Maluku Utara
Narasi dan Opini
Nusa Tenggara Barat (NTB)
Nusa Tenggara Timur (NTT)
Papua
Provinsi Aceh
Provinsi BALI
Provinsi Banten
Provinsi Bengkulu
Provinsi DIY
Provinsi Jambi
Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Tengah
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Kalimantan Selatan
Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kepri
Provinsi Lampung
Provinsi Riau
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Tengah
Provinsi Sulawesi Tenggara
Provinsi Sulawesi Utara
Provinsi Sumatera barat
Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatra Utara
Sejarah
Video
Yogyakarta
INVESTIGASI 86 di Google News

Mimpi Datuk Obik (11): “Jangan Kendur, Bersama Kita Bisa”

Mimpi Datuk Obik (11): “Jangan Kendur, Bersama Kita Bisa” (shutterstock)

DENGAN perasaan bahagia Upiak melangkahkan kakinya dari Kampus Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS) pulang ke Lubuk Jambi.

Sebagai “kutu buku” ia tak sabar membaca oleh-oleh spesial dari Rektor UNIKS, Dr. H. Nopriadi, SKM., M.Kes. Apalagi buku itu memang sudah lama dicarinya.

Untuk membeli empat buah buku yang tergolong best seller sekaligus, Upiak tak sanggup membelinya. Ia sadar ekonomi orang tuanya pas-pasan. Hanya cukup membiayai perkuliahan dirinya dan sekolah adik-adiknya.

Sepanjang perjalanan dari kampus UNIKS di Telukkuantan sampai ke kampung halamannya di Lubuk Jambi, Upiak selalu tersenyum.

Selintas ia seperti “orang gila” karena senyum sendiri. Tapi sebenarnya ia bahagia tiada tara. Dapat hadiah spesial yang mungkin “asing” bagi mahasiswa di kampusnya.

Sesampai di rumah orang tuanya sedikit agak “terkejut” melihat Upiak tak seperti biasa. Rona kebahagiaan memancar seperti keharuman sekuntum bunga dari anak gadisnya itu.

Ada apa gerangan?

Upiak dapat oleh-oleh special dari Pak Rektor,” ujar Upiak sembari mencium kedua tangan orang tuanya.

Hadiah apa, Piak?” tanya orang tuanya penasaran.

Upiak lalu menunjukkan tas yang berisi empat buah buku yang dibeli rektornya di Gramedia Grand Indonesia – Toko Buku di Mall terbesar Indonesia di Jl. M. Husni Thamrin No. 1, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.

Buku ini sudah lama Upiak cari, ayah-bunda,” ujar Upiak.

Upiak lalu menunjukkan buku karya Lourence D Wesley asal Selandia Baru, salah satu dari empat buku “hadiah” yang dibelikan rektor idolanya itu. Buku berjudul “Mekanika Tanah” setebal 582 halaman yang diterbitkan Andi Yogyakarta, 2010 sangat cocok bagi mahasiswa seperti dirinya juga untuk dosen maupun praktisi yang menggeluti pertanian dan teknik.

Mengapa Pak Rektor memberikan hadiah berupa buku, bukan yang lainnya untukmu, Piak,” tanya orang tuanya penasaran.

Ayah bunda tak perlu curiga dulu. Diam-diam rupanya Pak Rektor memantau kegiatan Upiak di DO Green Organik bersama team,” jawab Upiak tersenyum seraya mengatakan, rektornya tahu dirinya salah seorang mahasiswa “kutu buku” di kampusnya.

Barulah orang tuanya sadar, ternyata selama ini kepergian Upiak ke Kebun Nopi bukan untuk bersantai. Anaknya bekerja di pabrik pupuk organik milik Tuk Obik.

“Syukurlah, Kami orang tuamu tak sanggup membeli buku samahal itu, Piak,” ujar mereka.

Selesai melaksanakan salat zuhur berjamaah, Upiak minta izin kepada orang tuanya ke kedai Sarinam. Ia mau “maota lomak” dengan Sandi dan Tuk Obik sekaligus membicarakan kelanjutan penyusunan masterplan yang sudah mereka rancang sebelumnya.

Upiak juga ingin mengabari bahwa dirinya bersama Haryati asal Koto Sentajo sudah berjumpa dengan kawannya membahas gagasan rektor memanfaatkan lahan kosong di samping kampus UNIKS. Ia lalu menyebutkan nama kawannya itu.

Rio Febrian dari Cerenti yang suka membuat foto dan video, Willi Heriko dari Basrah yang mampu menjalankan fotoshop tiga dimensi (3-d), Sella Merita dari Benai yang bisa membuat disain taman atau landscape, dan Ardika Ikhsan dari Logas Tanah Darat yang suka membuat disain.

Menurut Upiak untuk sementara dirinya baru mengumpulkan mahasiswa UNIKS dari Fakultas Teknik dan Pertanian untuk memperbaiki masterplan yang sudah mereka rancang sebelumnya. Namun kedepan mahasiswa dari fakultas lainnya seperti Tarbiyah & Keguruan, dan Ilmu Sosial juga akan dilibatkan dalam Team DO Green Organik. Prinsipnya adalah kebersamaan bukan mencari keuntungan.

Di UNIKS kata Upiak sudah ada program studi (Prodi) seperti Teknik Sipil, Teknik Informatika, Wilayah & Perkotaan, Agro Teknologi, Peternakan, Agribisnis, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Kimia, Administrasi Negara, Hukum, Akuntansi, dan Perbankan Syariah.

***

Tuk Obik dan Sandi yang lagi santai terkejut dengan kedatangan Upiak membawa “sesuatu” di dalam tasnya.

Ini oleh-oleh spesial dari Pak Nop untuk Team DO Green Organik,” ujar Upiak tersenyum.

Apa tu, Piak?” tanya Tuk Obik sambil menunjuk isi tas yang dibawah Upiak.

Kasi tau atau kasi tau tak ya, Tuk?”ujar Upiak tersenyum bahagia. Sandi melihat betapa cantiknya wajah Upiak jika sedang berbahagia. Nagita Slavina putus, Apalagi Agnes Monica dan Luna Maya.

Mereka pun tertawa bersama, Hahahahahha….

Upiak lalu membuka oleh-oleh dari rektor tersebut satu persatu. Membuka lembar perlembar halamannya ternyata cukup tebal dan berharga mahal. Buku itu juga meraih predikat best seller karena penjualannya menembus angka tertentu dalam waktu tertentu dan dicetak berulang-ulang.

Sandi juga ikut bahagia. Sejak lulus dari Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Jawa Tengah lima tahun lalu, ia tak sempat lagi membeli buku. Begitu juga dengan Tuk Obik, pengusaha yang lama tinggal di Jakarta dan selalu rindu dengan kampung halamannya.

Ternyata bukan hanya mahasiswa UNIKS seperti Upiak yang unik, Rektor UNIKS Nopriadi juga unik. Ia tahu selera Team DO Green Organik,” ujar Tuk Obik dengan senang.

***

HARI itu, Senin pagi bersama Tuk Obik dan Sandi, Upiak melaju dari Lubuk Jambi ke Telukkuantan. Upiak janjian bertemu dengan kawannya di The Zona Coffée di Jl. Ahmad Yani Pasar Telukkuantan pagi pukul 09:00 WIB.

Di Zona Coffee milik Domestika Rizona yang akrab disapa Zona itu team DO Green Organik akan berdiskusi bersama temannya. Zona menyambut ramah kedatangan Upiak.

Perkenalkan ini Sandi dan Tuk Obik, Kak!” ujar Upiak kepada Zona yang masih kelihatan muda dari usianya. Mereka lalu berjabat tangan, Tak lama kemudian Haryati menyusul.

Sembari mencicipi sarapan pagi masakan Zona yang terkenal lezat itu, tiba-tiba rekannya yang semalam ikut datang lengkap dengan catatan dan lat-op masing-masing. Mereka bergabung dalam satu meja.

Sembari bercanda Tuk Obik mengatakan ternyata sebagai kota berpredikat pendidikan – walau belum sehebat Yogya, mahasiswa UNIKS di Teluk kuantan tidak gaptek alias gagap teknologi juga ya! Salut… salut…… salut… salut.

Nadia Rizalianti mahasiswa prodi Teknik Sipil asal Hulu Kuatan, Miranda prodi agro teknologi dari Singingi, dan Idayah Nurcahyati prodi teknik informatika dari Pangian yang asyik sarapan lontong toge ikut ketawa dengan candaan Tuk Obik. Ada aja ulah datuk ini. Sudah tua ternyata selera humornya masih tinggi.

Sebagai orang tua, datuk bangga bisa bergabung dengan anak muda yang energik dan pintar seperti kalian ini. Datuk jadi ingat dengan anak-anak datuk yang kuliah di pelbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia dan luar negeri. Ingat sekarang maju mundurnya Kuantan Singingi ada ditangan kalian,” ujar Tuk Obik memberikan semangat

Mereka akan membicarakan masterplan yang sebelumnya sudah dirancang oleh Sandi. Sekarang rancangan itu akan mereka perbaiki sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Mereka terlihat antusias sekali.

Sebelum diskusi berlanjut, Sandi yang dituakan mempersilahkan Tuk Obik menyampaikan seperti apa gagasan rektor yang harus mereka wujudkan itu. Setelah itu, merekalah yang akan menterjemahkan ulang dan membuat disainnya.

Tuk Obik mulai bercerita, pintu gerbang UNIKS harus di disain dengan konsep kembali ke alam. Aksesibilitas jalan dan saluran air tertata. Disain gudang di mana di atapnya terpampang logo perusahaan yang menjadi penyumbang dana CSR.

Selain itu kata Tuk Obik, disain kandang ternak tertata rapi juga dengan logo perusahaan yang memberikan dana. Disain gudang alat pertanian terlihat alat berat tersusun rapi dari hasil sumbangan anggota DPR, Pemda, perusahaan melalui dana CSR dan lainnya.

Yang tak kalah pentingnya kata Tuk Obik adalah rektor minta areal tanaman holtikultura tertata rapi seperti jagung, cabe, jahe dan singkong yang akan menjadi produk unggulan, gudang pupuk, gudang unit pengolahan pupuk DO Green Organik, ada cafe alam tempat berdikusi dan para petugas agro dan para mahasiswanya.

Rio Febrian yang suka membuat foto dan video, Willi Heriko dari Basrah yang mampu menjalankan fotoshop tiga dimensi (3-d) begitu tertantang dengan apa yang disampaikan Tuk Obik. Begitu juga dengan Sella Merita dari Benai yang bisa membuat disain taman atau landscape, dan Ardika Ikhsan dari Logas Tanah Darat yang suka membuat disain.

Aman, Tuk Obik. Jangan risau, itu sudah makanan kami sehari-hari,” ujar Rio Febrian mahasiswa Fakultas Tenik dari Cerenti meyakinkan.

Sella Merita yang bisa membuat disain taman ikut pula menyela. “Kalau bulan itu bisa kami disain, kami lakukan itu. Apalagi lahan kosong di samping kampus kami tu. Kecil itu….. kecil… kecil, Tuk. ” ujar mahasiswa asal Kecamatan Benai berparas cantik mirip artis Agnes Monika ini .

“Tuk Obik terus memberikan semangat. Jangan kendur. Bersama kita bisa. “Yes… yes… yes…. roso… roso…roso,”ujar Tuk Obik.

Hati Tuk Obik kini gembira tak terkira, ia sudah menyampaikan pemikirannya. Dan mahasiswa UNIKS mahasiswa yang nanti diharapkan bergabung dalam team DO Green Organik mampu mengaplikasikan pemikirannya.

***

TENGAH asyik diskusi tiba-tiba paman Upiak, Arman datang. Dengan cuek ia ikut nimbrung. Suasana makin ramai. “Tambah ciek (satu) lontong togenya, Zona,” ujar Arman.

Dengan cekatan Zona menyuguhkan permintaan langganan setianya itu yang selama ini memang sering membawa mahasiswa UNIKS “maota lomak” di Coffee miliknya.

Arman hanya berharap di masterplan yang diperbaiki itu tolong dirancang ada cafe alam bernuansa terbuka di pinggir kolam atau di sela-sela pokok sawit.

Cafe ini dibuat untuk tempat “maota lomak” membahas segala masalah berhubungan dengan kebutuhan dan problem segala macam terkait dengan gagasan yang akan disusun,”ujar Arman.

Menurut Arman cafe harus lain dari yang lain. UNIKS harus punya cafenya tanpa awak alias tak berpegawai tapi selalu ramai setiap harinya.

Apapun yang ingin diminum oleh mahasiswa UNIKS saat datang ke cafe disiapkan sendiri oleh masing-masing mahasiswa. Bahan baku minuman seperti aqua, kopi, susu, gula, dan lainnya selalu tersedia dan tak pernah habis karena setiap mahasiswa yang berkunjung ke café tersebut selalu mengontrol ketersediaannya.

Terakhir Arman mengingatkan,“Pak Nopriadi ingin lahan kosong di samping kampus UNIKS itu harus seperti Taman Raya dan Taman Buah Mekarsari Cileungsih di Bogor, Jawa Barat.”

Datuk Obik sudah menyerahkan kepada adik-adik. Jangan sia-siakan kepercayaan itu.

Jangan kendur, bersama kita bisa.”

Bersambung….

Klik tombol tindakan dibawah sesuai pilihanmu untuk membagikan informasi ini!