More results...

Generic selectors
Cari yang sama persis
Cari berdasarkan judul
Cari berdasarkan konten
Post Type Selectors
Filter by Categories
Bangka Belitung
Berita Indragiri Hilir
Berita Kriminal
Berita Kuansing
Catatan Muslim
Daerah
Edukasi
Hiburan
Internasional
Investigasi
Jakarta
Kabupaten Gunung Kidul
Kabupaten Indragiri Hilir
Kabupaten Indragiri Hulu
Kabupaten Kampar
Kabupaten Karimun
Kabupaten Kepahiang
Kabupaten Kuantan Singingi
Kabupaten Lahat
Kabupaten Lahat Online
Kabupaten Pelalawan
Kabupaten Rokan hilir
Kabupaten Siak
Kesehatan
Kota Batam
Kota Dumai
Lampung Barat
Maluku
Maluku Utara
Narasi dan Opini
Nusa Tenggara Barat (NTB)
Nusa Tenggara Timur (NTT)
Papua
Provinsi Aceh
Provinsi BALI
Provinsi Banten
Provinsi Bengkulu
Provinsi DIY
Provinsi Jambi
Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Tengah
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Kalimantan Selatan
Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kepri
Provinsi Lampung
Provinsi Riau
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Tengah
Provinsi Sulawesi Tenggara
Provinsi Sulawesi Utara
Provinsi Sumatera barat
Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatra Utara
Sejarah
Video
Yogyakarta
Daerah  

Mimpi Datuk Obik (16): MY “Maota Lomak” di Pekanbaru

Ilustrasi: Mimpi Datuk Obik (16): MY “Maota Lomak” di kota Pekanbaru

MARWAN Yohanis datang tepat waktu, Itulah kelebihan pria yang dijuluki “Si Doel” dari Kuantan Singingi oleh mahasiswa Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS). Disiplin dan tepat waktu jika sudah janjian dengan orang lain, apalagi dengan konstituennya di Daerah Pemilihan Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi.

Mereka “maota lomak” di “Pondok Kopi Aren Riau” Jl. Abadi – Arifin Ahmad No 70, Pekanbaru. Kedai kopi itu memang terkenal dengan minuman serba aren dan masakan indomienya yang lezat tiada tara di Pekanbaru.

Di kedai kopi milik Jon Erlis asal Cerenti itu sudah menunggu dua rekanmya Mardianto Manan yang akrab disapa MM dari PAN dan Sardiyono dari PPP. Terlihat juga pengopi asal Kuantan Singingi dari Cerenti, Pangean, Sentajo Raya, Inuman, Benai, Muara Lembu, Kuantan Mudik, Hulu Kungan dan lainnya.

Sementara penikmat kopi aren dari Kampar, Pelalawan, Siak, Bengkalis, Rokan Hulu, Dumai, Rokan Hilir, dan Kepulauan Meranti duduk di meja lain.

Ayok kita gabung, merapat… merapat.. merapat!” ujar MY kepada Nardi T Rusman pengopi dari Pangian yang duduk di meja tak jauh dari MY.

Segan kami bang! Lanjut saja,” jawab Nardi.

“Tak apa, sekali-kali “maota lomak” kita,” jawab MY.

Nardi dan penikmat kopi asal Kuantan Singingi:

Marhaen, Rendra, Candra, Joni Alpen, dan pentolan dari IPMAKUSI ikut bergabung. Maswanto dan Debi asal Pangian yang baru datang juga ikut. Pokoknya sore itu suasana ramai.

Penikmat kopi asal Kuantan Singingi memang menjadi langganan di kedai kopi milik Jon Cerenti itu. Bahkan Bupati Drs. H. Suhardiman Amby, S.E., Ak, jika ke Pekanbaru selalu singgah di situ, termasuk kepala dinas dan wakil rakyat dari Kuantan Singingi.

Makanan khas pisang kipas dan rebus ubi di kedai itu habis tak bersisa. Jon minta karyawannya yang bernama Alek dan Santi kembali memasak pisang batu (kepok) yang sengaja dibeli di kebun Sarinam di Lubuk Jambi.

Santi….. Santi…. oh adik manis. Tolong kembali goreng pisang kipas itu. Bang MY dan MM kelaparan ni,” ujar Jon ramah.

***

MY menceritakan pengalaman reses di Lubuk Jambi. Ia bertemu dengan Tuk Rasiman dan Arman serta mahasiswa UNIKS di kedai kopi “serba alam” milik Sarinam.

Namun karena keburu pulang ke Pekanbaru, MY tak sempat ikut ke “DO Green Organik” milik Tuk Obik di Kebun Nopi, Lubuk Jambi.

Saya sudah menitip “amplop” sama Sarinam, minggu depan saya akan datang membawa rombongan untuk mencicipi makanan serba alam masakan Sarinam yang sulit dilupakannya itu”.

Cerita semakin seru, MM yang jago cerita sering meningkah MY. Sardiono jarang terkenal “pelit” bicara pun tak mau ketinggalan.

Sarinam itu memang hebat, Bang MY. Saya kalau pulang kampung pasti pergi ke kedai serba alam milik Kak Sarinam itu,” ucap wakil rakyat kelahiran Desa Teberau Panjang ini.

Cerita semakin seru ketika Syariful Adnan yang akrab dipanggil Jang Itam datang mengenderai “moge” warna serba hitam datang ikut nimbrung.

Ini yang kita tunggu sudah datang. Kenapa lambat, Jang?”tanya MM.

Biasalah singgah dulu di RS Arifin Ahmad nengok Edi anggota IKKS Pelalawan yang dirawat, Bang MM,” jawab Jang Itam.

Sakit apa, Jang?” tanya Muswen dan Asnaldi yang pernah menjadi calon legislatif PDIP tapi gagal penasaran.

Jang Itam menyebut Edi asal Sentajo Raya itu kekurangan darah jenis AB.

Di Palang Merah Indonesia (PMI) Pelalawan dan Kuantan Singingi stok darah habis. Pening ni, Pusing kemana-mana stok darah AB itu tidak ada.

Kenapa tak tanya sama PMI Kampar, Jang,” tanya MY.

Malas saya, Nanti Ketua PMI Kampar marah pula sama saya. Apalagi mantan Ketua IKKS Jakarta, Mustari Usman sudah menyampaikan *SURAT TERBUKA* yang bisa dibaca melalui grup whatsapp pagi ini,” ujar Jang Itam.

Apa hubungan surat terbuka Pak Mustari Usman degan PMI, Jang?” tanya Nardi T Rusman pura-pura tak tahu.

Yaa adalah…. Masak kalian tidak tau Pak Sekda kita itu kan Ketua PMI Kampar, Jika minta darah tentu seizin dia dulu. Itu protapnya,” tambah Jang Itam.

Suasana semakin panas. Apalagi Jang Itam ini punya ciri khas sendiri. Lugu, lucu, dan panjang akal. Semua penikmat kopi di kedai Jon Cerenti itu ketawa semua mendengarkan cerita Jang Itam yang tidak pernah habisnya.

Apa cerita Sarinam, Jang?” tanya MY tak bisa menawan tawanya.

Menurut Jang Itam, itu kisah masa lalu. Sarinam adalah cinta pertamanya masa sekolah dulu di Pangian. Tapi yang namanya jodoh, kita tak tau.

Dulu kami yang pacaran. Sekarang anak saya yang kuliah di Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (FT-UIR) pacaran pula dengan anak Sarinam. Mau apalagi, kalau namanya jodoh tak akan lari kemana, Bang MY,” ujar Jang Itam tersenyum.

Kenapa dulu awak putus dengan Sarinam, Jang?” pancing Sardiyono.

Mau kasih tau atau kasi tau tak ya?”jelas Jang Itam.

Coba tanya bang MM dan paman saya Nardi T Rusman. Mereka berdua tau perjalanan cinta saya yang penuh misteri itu”.

Menurut Jang Itam semasa kuliah hidupnya memang serba kekurangan. Tapi cita-cita untuk merebut cinta anak pejabat atau orang kaya itu tidak pernah sirna. Lelah boleh, menyerah dalam mengejar cinta jangan. Itu dulu, sekarang tentu beda lagi jalan ceritanya.

Toke aren dari berbagai daerah yang selalu ngopi di kedai Jon Cerenti itu ikut pula tertawa mendengar cerita Jang Itam. Apalagi ia bercerita ringan, santai tapi mimik wajahnya serius. Seakan-akan apa yang diceritakannya itu fakta, padahal terkadang fiksi juga.

Jang Itam yang terkenal dengan ciri khasnya serba hitam berpesan, siapapun yang jadi pejabat, baik di Riau ini ingat pesan: Di mana bumi di pijak di situ langit di junjung. *Bukan sebaliknya di mana bumi di pijak, di situ duitnya di keruk*.

Kacau….. kacau….. kacau ni, cerita Jang Itam sudah ngelantur ke mana-mana. Sejak menjadi pengurus Partai Golkar di Kabupaten Pelalawan, bicaranya mulai kritis dan tajam. Namun ciri khasnya yang panjang akal, lugu, lucu, dan tanpa dosa tak bisa hilang. Itu sudah melekat dari dirinya.

Besok kita sambung ngopi di Kedai Kopi Bakayu Jl. Thamrin Kel. Suka Mulya Kecamatan Sail Pekanbaru. Di kedai kopi milik Oktaviyanus asal Koto Lubuk Jambi juga tersedia segala minuman serba aren,” ujar Jang Itam minta izin pulang mencari “Darah AB” untuk warganya yang lagi terbaring di RS Arifin Achmad Pekanbaru tersebut.

***

KITA kembali ke lat-op,” ajak MY. Ia sadar, kalau Jang Itam dah cerita tahi kambing pun terasa coklat. Tak akan habis-habisnya. MY yang jago cerita putus oleh Jang Itam. Putus…… putus….. putus semua.

MY dengan semangat menceritakan pengalamannya kali ini berjumpa dengan mahasiswa UNIKS. Mereka sedang merancang masterplan gagasan Rektor UNIKS, Dr. H. Nopriadi, SKM., M.Kes untuk mewujudkan kampus UNIKS yang asri.

Saya melihat langsung masterplan yang mereka rancang, Jika nanti terealisasi kita tak perlu lagi ke Kebun Raya Bogor dan Taman Buah Mekarsari Cilieungsih juga di Bogor. Pokoknya mantaplah,” ujar MY.

MM ikut terpancing dengan cerita MY soal UNIKS tersebut. Sebab, ia sebelumnya pernah gabung dengan mereka di The Zona Coffee milik Domestika Rizona di Jl. Ahmad Yani Telukkuantan.

Bang MY….. sejak dulu mahasiswa UNIKS itu memang unik. Mereka punya potensi luaaaaaaaaaaar biasa. Dan untuk mengembangkan potensi itu adalah tugas kita sebagai wakil mereka di DPRD Riau,” jelas MM diamini oleh Sardiyono.

Menurut Mardianto kecintaan dengan UNIKS tak bisa digantikan dengan uang sekalipun. Ia adalah salah seorang inisiator dan penggagas perguruan tinggi di Kuantan Singingi. Bersama Prof. H. Suwardi MS, Ir. H. Mahdili, Ir. H. Liusman Saleh, dan lainnya mereka mendirikan Sekolah Tinggi Teknologi (STT) dan Sekolah Tinggi Pertanian (STIP) Unggulan Swarnadipa di Telukkuantan pada 2000. Pada 2001 kedua pergurun tinggi itu keluar izin operasionalnya.

Dan kedua perguruan tinggi ini + Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) yang dirintis Prof. H. Zul Asri dibawah naungan Yayasan Pendidikan Tinggi Islam Kuantan Singingi dengan Akta Notaris Tajib Raharjo SH, tanggal 24 Mei 2002 menjadi cikal bakal pendidrian UNIKS.

Kenapa Pak MM tak kelihatan waktu acara wisuda mahasiswa UNIKS kemarin. Lupa di undang atau dilupakan?” tanya MY serius.

MM dengan sedikit emosi menyampaikan: “diundang atau tidak, kecintaan saya dengan UNIKS tidak akan luntur. Saya dulu ditunjuk Prof. H. Suwardi MS selaku Ketua Yayasan Pendidikan Kuantan Singingi menjadi Ketua STT US – salah satu perguruan tinggi yag dilebur ke UNIKS.”

Dirinya kata MM hanya mendapat info dari Sekretaris Umum IKKS Arman Lingga Wisnu bahwa Rektor UNIKS Dr. H. Nopriadi, SKM., M.Kes sudah menginstruksikan ke panitia agar mengundangnya. Ternyata undangan itu tak sampai ke saya. Mungkin nyangkut di kedai Sarinam di Lubuk Jambi.

Melalui Arman, rektor unik menyampaikan permohonan maafnya. Ini isinya:

Kalau undangan VIP untuk MM tidak sampai undangan ke Pak Dewan MM… kami mohon maaf. Ini akan menjadi bahan evaluasi bagi kami dan tim panitia undangan.

“Oh………………oh………..oh!” ujar MY.

MM hanya mengutip ucapan Heracletos, Filsuf Yunani yang mengatakan bahwa “Nothing Indurence But Change” untuk menggambarkan tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Lalu mereka sepakat untuk ikut “maota lomak” di kedai Kedai “Serba Alam” Sarinam di Lubuk Jambi.

Nanti kita ajak Pak Haji Sukarmis dan Pak Yulisman dari Partai Golkar,” ujar Sardiyono.

Kami-kami ini diajak juga dong,” sela Jon owner kedai Kopi Aren Riau asal Kuantan Singingi tersebut.

Itu pasti,” jawab MY spontan. Mereka akhirnya bubar karena hari sudah menjelang magrib.

Bersambung…..

Published by: Forum IKKS/IWAKUSI INDONESIA

Klik tombol tindakan dibawah sesuai pilihanmu untuk membagikan informasi ini!
INVESTIGASI 86 di Google News