Klarifikasi IPMA Papua DIY Atas Kejadian di Babarsari

Yogyakarta • Klarifikasi IPMA Papua DIY Atas Kejadian di Babarsari. Terkait dari kejadian kemarin yang terjadi di wilayah Babarsari,senin 4 juli 2022 pihak sekjen ikatan pelajar dan mahasiswa papua (IPMA PAPUA) Daerah istimewa Yogyakarta Irto Mamoribo(sekjen 1) beserta wakil president mahasiswa Esau D.kaize memberikan klarifikasi sebagai berikut.

Masa berkumpul di depan Mapolda DIY ( pukul 8.45) kemudian pukul 9.00 Kami berdoa,dan setelah

selesai berdoa kami masuk menuju kantor Mapolda DIY, kemudian langsung dihadang oleh pihak

kepolisian Mapolda DIY sempat kami diminta menunggu agar pihak kepolisian menghubungi Kapolda.

Namun,dalam hal ini pihak kepolisian terlalu mengulur waktu dan akhirnya kami pun kecewa sebab kami merasa persoalan ini sangat darurat, akibat kekecewaan tersebut kami menerobos masuk ke dalam yaitu menuju kantor Bareskrim Umum, kami sempat dimintai tiga orang sebagai perwakilan untuk bertemu dengan Kapolda namun bukan itu tujuan kami, kami mau bahwa Kapolda dan jajaran segera bertanggung jawab dan segera tangkap pelaku dan kami tidak mau hal yang bertele tele seperti itu, dan kami mau hari ini juga pelaku harus ditangkap sebab laporan sudah sampai ke mereka sejak 1 juli 2022 tetapi kenapa masih ada pembiaran, hal Ini yang membuat kami sebagai orang papua kecewa, selalu saja ada pembiaran.

Adapun kronologis selanjutnya yaitu sebagai berikut.

1. Tujuan kedatang Ipmapa ke Mapolda DIY adalah untuk menuntut keadilan Hukum atas saudara

kami yang beberapa hari lalu dibacok oleh kelompok Kriminal Premanisme, sebab laporan sudah dimasukan sejak tanggal 1 juli 2022 namun polisi tidak memberikan tanggapan sama sekali.

Kemudian dalam kasus ini IPMA PAPUA tidak ada sangkut pautnya dengan kedua kelompok yang bertikai sebab tuntutan yang dilayangkan IPMA PAPUA adalah pelaku harus segera diadili secara Hukum.

Kemudian dalam kasus ini orang Papua maupun IPMAPA tidak berpihak kepada siapapun (dua kelompok yang bertikai) dan tuntutan IPMAPA Jelas bahwa pelaku harus segera diadili secara Hukum sebab kejadian seperti ini bukan hanya baru kali ini tetapi sudah sejak dulu namun Hukum tidak pernah berprilaku adil dan pihak kepolisian selalu melakukan pembiaran terhadap persoalan persoalan yang dialami orang Papua di daerah istimewa Yogyakarta.

2. Kronologis terjadinya keributan di Mapolda DIY adalah disebabkan oleh Kapolda yang enggan menanggapi tuntutan kami. Kemudian masa meledak dan beringas, sebab kami dianggap seperti mainan boneka yang tidak bernilai di mata Hukum, kemudian masa mengingat kondisi korban yang tangannya sudah putus dua dua serta kaki yang dipotong tak beraturan hal ini yang semakin membuat masa marah dan emosi.

3. Hasil dari sikap Kapolda yang tidak mau menanggapi tuntutan tersebut masa sedikit memberikan shokterapi agar tuntutan tersebut segera di kabulkan, yaitu masa berjalan menuju kediaman pelaku (Babasari depan Gereja St Maria Asumpta ), kemudian masa meluapkan emosi dengan membakar beberapa fasilitas pelaku seperti motor, kursi, dan tongkrongan pelaku.

Dalam hal ini masa masih di kontrol penuh oleh Ipma Papua dan para senioritas sehingga masa diarahkan untuk kembali dan menyudahi aksi tersebut.

4.Pukul 13:50 wib masa berkumpul di seturann dan sempat beristirahat sejenak,kemudian selang beberapa menit polisi berkumpul dan mengeluarkan tembakan,masa mundur ke jalan samping Burjo Andeska dan siaga di sana.

5.pukul 14:12 wib para senior dan pemimpin IPMAPA melakukan Negosiasi atau perundingan,hasil dari perundingan tersebut,keluar surat penangkapan dari kepolisian terhadap 3 oknum pelaku dan kan segera di proses secara Hukum.

6.pukul 14:20 wib Masa menuju Asrama Papua(Kamasan1) setibanya di Asrama,masa beristirahat dan makan minum,di lanjutkan dengan serba serbi,kemudian pukul 15:00-15:30 wibmasa pulang ke rumah masing masing.

ADAPUN TUNTUTAN IPMAPA

1. Mosi tidak percaya kepada kepolisian republik Indonesia, atas pembayaran konflik yang dilakukan oleh Polda DIY terhadap Mahasiswa Papua.

2. Kami mahasiswa dan pelajar Papua Yogyakarta meminta polisi agar secepatnya pulihkan area BPS dan seteruan dari Premanisme karena Jogja kota Pendidikan bukan Metropolitan.

3. Tangkap dan adili pelaku,pemotongan tangan terhadap saudara kami DIBRILIAN JORNES TAWARIS RUMBEWAS

4. Sampai detik ini kami masih berusaha tetap percaya bahwa Kapolda DIY dan jajarannya masih memiliki intergras dalam menjalankan tugas dan fungsinya, dan kami masih menunggu integrasi tersebut.

5. Minta polisi

mengungkapkan pelaku-pelaku kekerasan terhadap mahasiswa Papua yang belum diungkapkan secara profesional oleh Polisi.

6. Stop kriminalisasi para senioritas kami yang mana secara hukum mereka tidak melakukan perbuatan salah sama sekali.(Ananta)

Advertisements
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com