Tak Pernah Shalat, Tapi Meninggal Husnul Khotimah?

Oleh: Jonru Ginting

Kita semua tentu masih ingat peristiwa sebelum meninggalnya ustadz Jefri Al Buchori (UJE). Saat itu, beliau keluar dari sebuah kafe dan berpapasan dengan dua wanita sales rokok.

Saat itu UJE berkata kepada kedua wanita tersebut, “Tolong doakan saya, ya.” Lalu beliau berkata pada temannya, “Bisa jadi, di mata Allah mereka berdua ini jauh lebih mulia dibanding saya.”

Saya yakin, banyak di antara kita yang merasa tidak nyaman dengan ucapan UJE tersebut. Sebab kita tidak bisa menerima. “Masa sih, perempuan penjual rokok, yang bajunya serba terbuka, di mata Allah jauh lebih mulia dibanding UJE yang seorang ustadz?”

Ya, mohon maaf. Lewat tulisan ini saya BUKAN hendak ngajak debat tentang siapa yang lebih mulia. Karena tidak penting juga untuk diperdebatkan.

Yang jelas, ucapan UJE tersebut bisa menjadi tamparan bagi kita semua. Bahwa kita selama ini mungkin terlalu hobi men-judge orang lain.

Misalnya jika kita ketemu dua orang perempuan di jalan. Yang satu tidak berjilbab, auratnya terlihat dengan jelas. Yang satu lagi berjilbab lebar dan sangat syar’i. Secara spontan di dalam hati kita langsung menilai, “Pasti yang berjilbab ini jauh lebih mulai di mata Allah ketimbang yang tidak berjilbab.”

Padahal apakah benar begitu? Belum tentu. Karena Allah Maha Tahu tentang siapa kedua perempuan ini.

Siapa tahu, perempuan yang tidak berjilbab justru punya amalan tersembunyi, misalnya dia rajin sedekah diam-diam, rajin membantu anak yatim, dan sebagainya.

Sementara si perempuan berjilbab, mungkin saja dia hanya sibuk beribadah untuk dirinya sendiri, dan tidak peduli pada sesama.

Mungkin saja seperti itu, kan?

Berarti Pak Jonru membenarkan perempuan tidak menutup aurat?”

Oh. .. bukan seperti itu, Ferguso! Soal kewajiban menutup aurat, ini tentu HARGA MATI, karena bagian dari perintah agama. Jika ada saudara perempuan kita yang belum menutup aurat, tentu kewajiban kita untuk berdakwah kepadanya.

Lewat tulisan ini, saya hendak mengajak kita semua termasuk saya pribadi untuk tidak terlalu mudah men-judge siapapun.

Terus terang, saya dulu pun sering seperti itu. Saya men-judge seseorang hanya berdasarkan tampilan luarnya saja.

Namun ada beberapa pengalaman yang membuat saya akhirnya sadar. Salah satunya adalah KISAH NYATA almarhumah nenek saya, yang biasa kami panggil Nenek Tigan.

Nenek Tigan ini orangnya sangat rajin bekerja, tak pernah bisa diam, dan di usia tuanya tinggal sendirian di kampung halaman.

Suatu hari, ayah memutuskan untuk mengajak nenek tinggal di rumah kami. Saat itu, usia nenek sudah sangat uzur, mungkin 80 tahun lebih.

Karena tinggal di rumah kami, maka ayah pun mensyahadatkan nenek. Sebab sebelumnya beliau adalah penganut animisme.

Saat bersyahadat, nenek sangat kesulitan mengucapkan dua kalimat syahadat. Sudah diajari berulang kali, tapi tetap tidak bisa.

Ini bisa dimaklumi, karena nenek sejak kecil hanya menguasai satu bahasa, yakni bahasa Karo. Bahkan bahasa Indonesia pun beliau tidak bisa. Jadi ketika disuruh mengucapkan kalimat syahadat yang berbahasa Arab, beliau sangat kagok dan tidak pernah berhasil mengucapkannya.

Namun pak ustadz yang ketika itu mensyahadatkan berkata bahwa shayadatnya sudah sah. Maka kami yakin saja bahwa nenek sudah memeluk Islam.

Setelah masuk Islam, nenek tidak pernah shalat, tidak pernah mengerjakan ibadah apapun. Bukan karena beliau tidak mau. Tapi faktor usia, ditambah karena sudah pikun, membuat beliau sangat sulit diajari.

Saat itu, hanya satu ibadah yang bisa dikerjakan oleh nenek, yakni berpuasa di bulan Ramadhan.

Nenek Tigan termasuk orang yang berusia sangat panjang. Berdasarkan penuturuannya, beliau lahir ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Entah ini benar atau tidak (sebab tidak ada catatan tentang kelahiran beliau). Yang jelas kami memperkirakan bahwa usia beliau 100 tahun lebih.

Nah, peristiwa ajaib pun terjadi ketika nenek menghadapi sakratul maut menjelang wafat. Saat itu, tiba-tiba saja beliau sangat lancar mengucapkan kalimat tahuid “Laa ilaaha illallah…”

Padahal dulu ketika bersyahadat, beliau tidak pernah berhasil mengucapkan kalimat tersebut.

Kakak saya yang ketika itu berada di samping nenek, bercerita bahwa kemungkinan ada malaikat yang membantu nenek untuk mengucapkan kalimat tersebut. Masya Allah!

Saya pun mencoba flash back ke masa lalu:
Nenek dulunya tidak pernah shalat atau mengerjakan ibadah lain. Satu-satunya ibadah yang pernah beliau kerjakan hanyalah puasa di bulan Ramadhan.

Tapi kenapa beliau meninggal dunia dengan sangat indah seperti itu?

Wallahualam. Hanya Allah yang Maha Mengetahui tentang segala sesuatu.

Pengalaman ini menjadi salah satu pelajaran berharga bagi saya, bahwa kita jangan terlalu mudah men-judge seseorang.

Tentunya, saya sama sekali tidak menyuruh kita semua untuk tidak shalat. Toh nenek saya pun bisa meninggal husnul khotimah walau tak pernah shalat. BUKAN SEPERTI ITU, FERGUSO!

Jangan salah menangkap pesan yang hendak disampaikan, ya. Bisa bahaya!

Lewat tulisan ini, saya hendak mengajak kita semua – termasuk saya – untuk tidak terlalu mudah men-judge seseorang. Karena hanya Allah yang Maha Tahu tentang siapa di antara kita yang lebih mulia.

Tulisan ini sekaligus menjadi nasehat bagi diri saya sendiri.

Jakarta, 15 Juni 2022

Jonru Ginting
Penulis adalah:
✔️ Social Media Influencer
✔️ Leader Nasional PT BEST Corp Syariah
✔️ Coach Bisnis yang telah membina lebih dari 400 pebisnis

Advertisements
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com