More results...

Generic selectors
Cari yang sama persis
Cari berdasarkan judul
Cari berdasarkan konten
Post Type Selectors
Filter by Categories
Bangka Belitung
Berita Indragiri Hilir
Berita Kriminal
Berita Kuansing
Catatan Muslim
Daerah
Edukasi
Hiburan
Internasional
Investigasi
Jakarta
Kabupaten Gunung Kidul
Kabupaten Indragiri Hilir
Kabupaten Indragiri Hulu
Kabupaten Kampar
Kabupaten Karimun
Kabupaten Kepahiang
Kabupaten Kuantan Singingi
Kabupaten Lahat
Kabupaten Lahat Online
Kabupaten Pelalawan
Kabupaten Rokan hilir
Kabupaten Siak
Kesehatan
Kota Batam
Kota Dumai
Kota Manado
Lampung Barat
Maluku
Maluku Utara
Narasi dan Opini
Nusa Tenggara Barat (NTB)
Nusa Tenggara Timur (NTT)
Papua
Provinsi Aceh
Provinsi BALI
Provinsi Banten
Provinsi Bengkulu
Provinsi DIY
Provinsi Jambi
Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Tengah
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Kalimantan Selatan
Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kepri
Provinsi Lampung
Provinsi Riau
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Tengah
Provinsi Sulawesi Tenggara
Provinsi Sulawesi Utara
Provinsi Sumatera barat
Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatra Utara
Sejarah
Traveling
Video
Way Kanan
Yogyakarta

Perang Opium Modern Ada Hubungannya Dengan Aplikasi Tiktok? Simak Sejarah Dan Analisa Part 1

Ilustrasi Perang Opium Modern dan Aplikasi Tiktok
INVESTIGASI 86 di Google News

Investigasi Teknologi & Sejarah • Perang Opium Modern Hubungannya Dengan Tiktok Apa? Disini kita akan membahas tentang TikTok, bukan karena video dancing, lipsing atau challenge yang lagi viral di sana.

Tapi karena tiktok sedang membangun senjata pemusnah massal yang akan meluluh lantakkan para pemain di berbagai industri.

Tiktok akan merevolusi konstelasi persaingan bisnis di masa depan di semua industri.

Anda pernah dengar tentang perang opium yang terjadi di pertengahan abad 19 ? Di perang itu china dipermalukan dan dikerjain habis-habisan oleh negara-negara barat.

Dan saat ini, diduga china ingin membalas dendam atas kekalahannya pada saat perang opium dan tiktok menjadi salah satu senjata utamanya.

Tiktok akan mendefinisikan Bagaimana pertempuran bisnis di masa depan akan dimainkan.

ini artikel wajib untuk Anda yang tertarik dengan teknologi, strategi dan masa depan.

Opium War adalah dua perang yang terjadi antara dinasti Qing dan negara-negara Barat pada pertengahan abad ke-19.

Perang ini dipicu oleh sengketa perdagangan antara Inggris dan Dinasti Qing di china.

pada saat itu perdagangan barang-barang China seperti teh, Sutra dan porselen sangat menguntungkan bagi para pedagang Inggris.

Masalahnya adalah pedagang Cina tidak mau menukarnya dengan membeli produk Inggris, mereka hanya mau menjual barang-barang mereka dengan imbalan perak, akibatnya sejumlah besar perak meninggalkan Inggris.

Untuk mengakali itu, para pedagang Inggris mulai menyelundupkan opium ke Cina secara ilegal dan mereka menuntut pembayaran dalam bentuk perak.

Ilustrasi perang Opium (Opium War) dan aplikasi tiktok

Perak itulah yang kemudian digunakan untuk membeli teh dan barang-barang lainnya dari China.

Pada tahun 1839 penjualan opium ilegal ke Cina membayar seluruh perdagangan Inggris. China tentu saja ingin menghentikan perdagangan opium bukan karena opium telah mengikis apa yang dulunya merupakan neraca perdagangan yang menguntungkan, namun jutaan pecandu Opium telah merusak masyarakat Cina dan pada saat itulah, mulai melemahkan kedigdayaan dinasti di china.

China pun memaksa kepala pengawas perdagangan Inggris di Cina Charles Aliet untuk menghancurkan semua stok opium, dan itu membuat marah Inggris sehingga memicu perang opium yang berlangsung selama tiga tahun dan berlanjut lagi selama empat tahun.

Cina akhirnya kalah dalam perang itu, mengakibatkan Cina kehilangan Hongkong dan dipaksa membuka semua batas-batas wilayahnya untuk melakukan perdagangan bebas dengan semua negara-negara barat.

Kembali ke tiktok, Spekulatif tentu saja ya “Tiktok istrinya Opium“.

Tiktok adalah opium baru dan tentu perang opium modern baru saja dimulai.

Dan kali ini Cina yang melakukan penyerangan dan peluangnya besar bahwa Cina yang akan keluar sebagai pemenang atas perang Opium Modern tersebut.

Sebelum kita kaji mengapa Tik Tok adalah the opium Wars dan bagaimana tiktok akan merevolusi konstelasi persaingan industri masa depan.

Bagaimana tiktok bermula?

Di awal 2012 seorang software engineer bernama Zhang yiming dengan temannya Liang rubo Mendirikan perusahaan yang bernama Byte Dance di tahun itu pula Byte Dance meluncurkan aplikasi pertamanya yang disebut Neihan Duanzi (Lelucon yang mendalam).

Aplikasi ini memungkinkan pengguna Untuk mengedarkan lelucon, Meme, dan video lucu.

Masih di tahun yang sama Byte Dance menunjukkan platform berita dan informasi yang bernama TouTiou yang secara harfiah berarti berita utama atau headlines.

Hanya dalam empat bulan setelah diluncurkan TouTiou kemudian memiliki satu juta pengguna aktif harian.

Kemudian pada tahun 2014, SEQUOIA Capital menginvestasikan 100 US Dollar di Byte Dance dan sebagian dana tersebut digunakan untuk mendirikan ByteDance AI Lab yang fokus pada pengembangan kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelijen) yang mampu memahami informasi, baik berupa teks, gambar atau video secara mendalam.

AI Lab juga mengembangkan algoritma machine-learning untuk rekomendasi informasi yang dipersonalisasi.

Teknologi AI ini Kemudian dibenamkan pada TouTiou sehingga memiliki kemampuan memprediksi dan merekomendasikan konten berita dan informasi dengan sangat akurat sesuai dengan minat para penggunanya.

Kehebatan rekomendasi berbasis AI itulah yang kemudian membawa TouTiou berhasil mendapatkan 120 juta pengguna aktif di September 2017.

Para pengguna TouTiou cara rata-rata menghabiskan waktu 74 menit per harinya menggunakan aplikasi tersebut.

Pada tahun 2016 lahirlah sebuah aplikasi yang bernama Douyin, sebuah layanan hosting video pendek yang menampung berbagai video pengguna dari beragam genre, seperti lelucon aksi trik dan tarian dan juga hiburan.

Douyin memanfaatkan teknologi rekomendasi berbasis AI seperti yang digunakan TouTiou untuk menyuguhkan ragam video yang sesuai dengan minat penggunanya.

Kesuksesan Douyin di Cina mendorong Byte Dance untuk membuat versi Global dari Douyin untuk konsumsi publik yang diluar daratan Cina.

Maka di bulan November 2017 Byte Dance mengakuisisi aplikasi yang bernama Musical.ly sebuah media sosial asal China yang bermarkas di Santa Monica callifornia.

Melalui musical.ly pengguna dapat membuat video musik lipsing selama 15 detik hingga satu menit dan memilih soundtrack untuk mengiringinya menggunakan opsi kecepatan yang berbeda serta menambahkan filter dan efek.

Aplikasi ini juga memungkinkan pengguna untuk menelusuri video populer lagu yang sedang Trend, Tagar, hingga berinteraksi langsung dengan para penggemar.

Saat diakuisisi musically sudah memiliki 200 juta pengguna diseluruh dunia, musically kemudian diubah namanya menjadi tiktok.

Marketing tiktok mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu target utama dari tiktok. selain melihat statistik pengguna internet yang terus meningkat di Indonesia, tiktok melihat generasi muda Indonesia memiliki tingkat narsis dan juga kreatif yang sangat tinggi.(Bersambung Part II).

Artikel diatas berisikan catatan sejarah, Survei, serta analisa dari ahli Dr. Indrawan Nugroho .

Ikuti terus update dari Portal Berita Investigasi86 agar pembaca semua mendapatkan notifikasi terbaru terkait Update Berita dan informasi menarik lainnya yang disajikan investigasi86.com dengan cara aktifkan lonceng notifikasi nya dan jangan lupa instal aplikasi investigasi86 Mobile di smartphone kesayangan anda hanya lewat Browser bawaan smartphone nya.

Klik tombol tindakan dibawah sesuai pilihanmu untuk membagikan informasi ini!