More results...

Generic selectors
Cari yang sama persis
Cari berdasarkan judul
Cari berdasarkan konten
Post Type Selectors
Filter by Categories
Bangka Belitung
Berita Indragiri Hilir
Berita Kriminal
Berita Kuansing
Catatan Muslim
Daerah
Edukasi
Hiburan
Internasional
Investigasi
Jakarta
Kabupaten Gunung Kidul
Kabupaten Indragiri Hilir
Kabupaten Indragiri Hulu
Kabupaten Kampar
Kabupaten Karimun
Kabupaten Kepahiang
Kabupaten Kuantan Singingi
Kabupaten Lahat
Kabupaten Lahat Online
Kabupaten Pelalawan
Kabupaten Rokan hilir
Kabupaten Siak
Kesehatan
Kota Batam
Kota Dumai
Lampung Barat
Maluku
Maluku Utara
Narasi dan Opini
Nusa Tenggara Barat (NTB)
Nusa Tenggara Timur (NTT)
Papua
Provinsi Aceh
Provinsi BALI
Provinsi Banten
Provinsi Bengkulu
Provinsi DIY
Provinsi Jambi
Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Tengah
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Kalimantan Selatan
Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kepri
Provinsi Lampung
Provinsi Riau
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Tengah
Provinsi Sulawesi Tenggara
Provinsi Sulawesi Utara
Provinsi Sumatera barat
Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatra Utara
Sejarah
Video
Yogyakarta
Daerah  

Harga Sawit Hanya Rp.500/Kilo, Petani: Kalau Gini Bolehkah Kami Menjual Sawit Kami Ke Malaysia Yang Sekilonya Hampir Rp.5 ribu

Investigasi86 • Harga sawit di Nunukan anjlok sampai 500 rupiah dan telah berlangsung hampir 14 hari, sedangkan harga sawit di Malaysia harganya mendekati 5 ribu perkilonya jika di kurs rupiah.

Anjloknya harga tandan buah sawit (TBS) secara nasional, menjadi keresahan yang dirasakan juga oleh para petani kelapa sawit di perbatasan RI–Malaysia.

Sejumlah petani kelapa sawit yang tergabung dalam Kelompok Tani Mandiri Sebakis Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara inipun, nekat menembus hujan keluar kampung dan menyeberangi lautan, demi mengadu ke DPRD Nunukan.

Martadita, salah seorang anggota kelompok tani perkebunan kelapa sawit Sebakis, memohon agar pemerintah daerah bisa mencari jalan supaya hasil panen mereka bisa dijual ke Malaysia.

Dengan harga Rp 500 per kilogram, beraspun tidak bisa kami beli. Harga pupuk mahal, harga racun tinggi, kalau Indonesia begini, bolehkah kami jual TBS ke Malaysia,” tanya dia, dalam rapat yang digelar di gedung DPRD Nunukan, pada Jumat (1/7/2022).

Martadita sebagai seorang ibu, mengeluhkan kebutuhan warga pedalaman yang baru saja mencoba berdaya setelah terdampak pandemi Covid-19.

“Bagaimana kami bertani kalau kondisinya begini, anak sekolah butuh uang, bisa bisa mereka tidak lanjut sekolah kalau begini terus,” imbuh dia.

Perusahaan tidak terima hasil panen petani Sebakis

Ketua Kelompok Tani Sebakis, Sahir Tamrin, mengatakan, sebagai petani mandiri, mereka sering terabaikan.

Bahkan, dua pabrik kelapa sawit (PKS) terdekat di Sebakis, menolak membeli atau menerima hasil panen para petani tersebut.

Akibatnya, mereka menjual TBS ke perusahaan lain yang lokasinya lumayan jauh, namun harus membayar ongkos Kapal LCT Rp 600.000 per ton.

Selain mengeluarkan biaya angkut LCT, mereka juga harus mengeluarkan biaya panen Rp 200.000 dan ongkos melansir keluar Rp 100.000.

Sejak 14 hari ini, harga TBS per ton Rp 500.000 dari Rp 1,2 juta. Hasil keuntungan bersih kami itu hanya berkisar Rp 200.000 sampai Rp 300.000 saja. Saat ini, sudah sebulan petani Sebakis tidak panen karena terasa sekali akibat anjloknya harga,” ujar dia.

Fluktuasi harga TBS yang kian anjlok, kata Sahir, terjadi mulai April 2022 yang masih di kisaran Rp 3,2 juta, turun menjadi Rp 2,7 juta dan terus menukik di harga Rp 1,2 juta mulai Idul Fitri 2022.

Sahir berharap, pemerintah daerah mencari jalan agar dua perusahaan terdekat, mau menerima TBS mereka dengan harga yang sesuai.

Kalau bisa, dua perusahaan di Sebakis mau terima buah kami. Kami coba berhitung, biaya ongkos kami membawa TBS ke perusahaan lain Rp 600.000. Jika dikalikan hasil panen terendah petani setempat dengan jumlah 2.000 ton perbulan, maka hasil panen petani bernilai Rp 1,8 miliar. Jumlah yang cukup untuk membangun jalan tol di Sebakis,” kata Sahir.

Sahir menegaskan, mayoritas petani di Kabupaten Nunukan adalah petani mandiri, sehingga mereka termarginalkan apabila menganut Permentan Pasal 4 Tahun 2018 yang menjelaskan bahwa PKS hanya menerima petani plasma dan kemitraan.

Sahir meminta pemerintah mencari solusi atas ketentuan tersebut, dengan mengevaluasi kembali tentang penerimaan hasi panen TBS petani mandiri dan plasma.

Kalau tidak dievaluasi apa nasib kami nanti? Dan apabila Pemkab Nunukan tidak bisa menuruti tuntutan kami, tolong izinkan kami menjual TBS ke Malaysia. Harga di sana RM 1360 atau hampir Rp 5 juta rupiah,” harap dia.

Sumber

Klik tombol tindakan dibawah sesuai pilihanmu untuk membagikan informasi ini!
INVESTIGASI 86 di Google News