class="post-template-default single single-post postid-3412 single-format-standard custom-background wp-custom-logo wp-embed-responsive idtheme kentooz">

More results...

Generic selectors
Cari yang sama persis
Cari berdasarkan judul
Cari berdasarkan konten
Post Type Selectors
Filter by Categories
Aceh
Advetorial
BALI
Bangka Belitung
Berita Banten
Berita Bengkulu
Berita Kriminal
Berita Kuansing
Catatan Muslim
Cerita Bersambung Mimpi Datuk Obik
Cerita Datuk Obik
Daerah
Daerah Istimewa Yogyakarta
Dumai
Edukasi
Hiburan
Humor
Inhil
Internasional
Investigasi
Jakarta
Jambi
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Jogjakarta
Kalimantan Selatan
Kampar
Kepulauan Riau
Kesehatan
Lampung
Maluku
Maluku Utara
Motivasi dan Inspirasi
Narasi dan Opini
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Organisasi
Papua
Peduli Kasih
Pelalawan
Pemerintahan
Peristiwa
Politik
Riau
Rohil
Sejarah
Siak
Sosial dan Budaya
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Utara
Sumatera barat
Sumatra Selatan
Sumatra Utara
Teknologi
Tips dan Trik
Video

Kalau Harga Sawit Turun, Harga Minyak Goreng Bagaimana?

Bagikan ini :

Kebijakan pemerintah untuk tidak mengekspor CPO tentunya akan membuat melimpah stok CPO dalam negri.

Karna melimpahnya stok CPO dalam negri, tentu pabrik pengolahan buah sawit hingga menjadi CPO, otomatis akan mengurangi produksinya.

Berkurangnya produksi CPO oleh pabrik tentu akan mengurangi permintaan pabrik atas buah sawit yang diolah oleh pabrik.

“Sukur-sukur sawit masyarakat mau mereka beli, kalau mereka hanya mengolah hasil kebun mereka sendiri gimana” ?

Kalau sudah seperti ini situasinya, ya harga buah sawit di masyarakat terpaksa musti di terjun bebaskan dong.

Kalau harga buah sawit sudah terjun bebas dan murah meriah, apakah minyak goreng otomatis turun juga harganya? Ya belum tentu.

Kenapa belum tentu? Karena permintaan minyak goreng dalam negri masih tinggi. Itu mengacu pada teori supply and demand (penawaran dan permintaan).

Jika permintaan tinggi otomatis harga produk akan naik, dan jika permintaan berkurang otomatis harga produk akan menurun.

Saat mau lebaran begini, ya mustahil sekali permintaan minyak goreng menurun不不不

Adapun total kebutuhan konsumsi minyak goreng nasional hasil olahan dari minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sekitar 5,06 juta ton per tahun, atau setara 5,7 miliar liter per tahun.

Dari total kebutuhan tersebut, untuk konsumsi rumah tangga sekitar 3,4 juta ton per tahun, atau sekitar 3,9 miliar liter per tahun,

Sebagai gambaran, berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) tahun 2021, produksi CPO sepanjang tahun lalu mencapai 46,88 juta ton. Sementara itu, konsumsi minyak sawit dalam negeri hanya sebesar 18,42 juta ton dengan jumlah ekspor minyak sawit Indonesia sebesar 34,2 juta ton.

Dengan kata lain, konsumsi minyak sawit dalam negeri hanya setara 35% dari gabungan konsumsi domestik dan ekspor, sedangkan jumlah minyak sawit Indonesia yang diekspor mencapai 65%. Oleh sebab itu, larangan ekspor ini memang berpotensi membuat pasokan dalam negeri jadi melimpah.(red)

Berbagai sumber

Bagikan ini :