More results...

Generic selectors
Cari yang sama persis
Cari berdasarkan judul
Cari berdasarkan konten
Post Type Selectors
Filter by Categories
Bantul
Batam
Bengkulu Utara
Berita Kriminal
Blitar
Catatan Muslim
Daerah
Edukasi
Garut
Gunung Kidul
Halmahera Selatan
Halmahera Tengah
Hiburan
Iklan
Internasional
Investigasi
Jakarta
Jayapura
Kabupaten Bengkalis
Kabupaten Buru
Kabupaten Indragiri Hilir
Kabupaten Indragiri Hulu
Kabupaten Kampar
Kabupaten Kepahiang
Kabupaten Kuantan Singingi
Kabupaten Pelalawan
Kabupaten Rejang Lebong
Kabupaten Rokan hilir
Kabupaten Rokan Hulu
Kabupaten Siak
Karimun
Kesehatan
Kota Dumai
Kota Magelang
Kota Manado
Kota Semarang
Labuhan Batu
Maluku Tenggara
Merangin
Narasi dan Opini
Papua
Pekanbaru
Provinsi BALI
Provinsi Banten
Provinsi Bengkulu
Provinsi DIY
Provinsi Jambi
Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Tengah
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Kalimantan Selatan
Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kepri
Provinsi Lampung
Provinsi Maluku
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Provinsi Riau
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Tenggara
Provinsi Sulawesi Utara
Provinsi Sumatera barat
Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatra Utara
Provisi Maluku Utara
Sejarah
Sleman
Tanggamus
Ternate
Tidore
Tidore Kepulauan
Timor Tengah Selatan
Trenggalek
Video
Way Kanan
Yogyakarta
Yogyakarta

“Relokasi Korban Longsor Kuatae, Apris Bilang METEOROLOGI  Belum Keluarkan Kajian”

Soe, INVESTIGAS86.COM – Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan melalui Asisten yang membidangi Dinas PRKP, PUPR, dan BPBD, Apris Manafe, memberikan penjelasan kepada masyarakat korban bencana longsor di Desa Kuatae, RT 01 RW 01, Kecamatan Kota Soe, terkait proses relokasi yang hingga kini masih terkendala perizinan.

Apris Manafe menjelaskan, sebelumnya ada pembahasan mengenai relokasi di lokasi Sonapolen. Menurutnya, lahan di bawah lima hektar tersebut dinilai aman untuk pemukiman sementara, asalkan pohon-pohon besar tidak diganggu. Pemerintah pun sempat mempertimbangkan pemanfaatan lahan itu dalam jangka waktu 25 tahun, dengan rencana perubahan RT/RW agar bisa dialihfungsikan menjadi milik masyarakat.

Namun, sekitar satu bulan lalu, pemerintah mendapat informasi bahwa izin penggunaan lahan tersebut tidak dapat diberikan. Persoalan izin ini bukan lagi berada di tingkat gubernur, melainkan harus diproses langsung di kementerian.

“Saya baru dengar informasi bahwa ada kepastian dari kementerian bahwa lokasi tidak diizinkan. Di tengah kami lagi pusing memikirkan masalah tanah, tiba-tiba ada informasi dari pak Sekda bahwa ada orang tua kita yang punya tanah di bawah kantor desa, kurang lebih hampir dua hektar. Tapi karena lokasinya berdekatan dengan pemukiman, kami belum bisa menyetujui langsung. Kami sudah minta kajian dari Badan METEOROLOGI  perwakilan Ende, tapi sampai sekarang belum keluar,” jelas Apris.

Ia juga menyinggung tanah di lokasi Civic center yang sebelumnya sempat diusulkan. Namun, menurut Apris, peruntukannya tidak jelas karena adanya tukar guling dengan tanah kawasan hutan. Pemerintah pun kembali menggandeng Undana Fakultas Teknik untuk melakukan kajian tanah di Sonapolen.

“Waktu lalu kita sudah gencar berpikir Sonapolen akan jadi, bahkan YNS siap bantu kita untuk bangun. Tapi tiba-tiba ada informasi dari provinsi bahwa usulannya harus ke Jakarta. Sampai sekarang kita masih tunggu,” tambahnya.

Selain itu, Apris menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam terkait masalah relokasi ini. Ia meminta masyarakat untuk memahami bahwa persoalan tanah merupakan kendala utama.

“Yang tidak tahu, dia bilang pemerintah diam-diam tidur. Tidak. Kami sedang berpikir terus dan berusaha. Itu masalah tanah yang jadi kendala,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Apris juga menyinggung soal usulan masyarakat untuk menggunakan tanah keluarga di luar area terdampak. Ia menilai hal itu bisa dipertimbangkan, apalagi jika ada dukungan dari YNS dan TNI untuk membangun.

Sementara itu, terkait persoalan drainase di Kampung Sabu, Apris berjanji akan mengawal meskipun dana yang tersedia sangat terbatas.

“Terkait pembuangan di Kampung Sabu, saya akan kawal itu. Walaupun uangnya terbatas, nanti kami akan minta agar program itu diprioritaskan. Kita akan omong dengan pimpinan DPRD, karena saya lihat ketua DPR sering ke sini. Kita bisa bicarakan untuk prioritaskan got di Kampung Sabu supaya aliran air ke Kuatae bisa dikurangi,” tandasnya.

Klik tombol tindakan dibawah sesuai pilihanmu untuk membagikan informasi ini!