More results...

Generic selectors
Cari yang sama persis
Cari berdasarkan judul
Cari berdasarkan konten
Post Type Selectors
Filter by Categories
Bantul
Batam
Bengkulu Utara
Berita Kriminal
Blitar
Catatan Muslim
Daerah
Edukasi
Garut
Gunung Kidul
Halmahera Selatan
Halmahera Tengah
Hiburan
Iklan
Internasional
Investigasi
Jakarta
Jayapura
Kabupaten Bengkalis
Kabupaten Buru
Kabupaten Indragiri Hilir
Kabupaten Indragiri Hulu
Kabupaten Kampar
Kabupaten Kepahiang
Kabupaten Kuantan Singingi
Kabupaten Pelalawan
Kabupaten Rejang Lebong
Kabupaten Rokan hilir
Kabupaten Rokan Hulu
Kabupaten Siak
Karimun
Kesehatan
Kota Dumai
Kota Magelang
Kota Manado
Kota Semarang
Labuhan Batu
Maluku Tenggara
Merangin
Narasi dan Opini
Papua
Pekanbaru
Provinsi BALI
Provinsi Banten
Provinsi Bengkulu
Provinsi DIY
Provinsi Jambi
Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Tengah
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Kalimantan Selatan
Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kepri
Provinsi Lampung
Provinsi Maluku
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Provinsi Riau
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Tenggara
Provinsi Sulawesi Utara
Provinsi Sumatera barat
Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatra Utara
Provisi Maluku Utara
Sejarah
Sleman
Tanggamus
Ternate
Tidore
Tidore Kepulauan
Timor Tengah Selatan
Trenggalek
Video
Way Kanan
Yogyakarta
Yogyakarta

Permainan Elite, Suara Rakyat Dan Tantangan Demokrasi

Dalam pidatonya beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto menyinggung adanya indikasi gerakan yang dibiayai oleh kelompok tertentu. Pernyataan ini segera mengundang beragam tanggapan. Sebagian pihak menilainya sebagai peringatan serius, sebagian lagi meragukannya sebagai sekadar retorika politik. Namun, terlepas dari pro dan kontra, klaim semacam ini memang tidak bisa ditelan mentah-mentah, tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Publik justru perlu bersikap bijaksana, sebab pola semacam ini pernah terjadi di berbagai belahan dunia.

Brasil, misalnya, pada Juni 2013 diguncang aksi besar-besaran di kota-kota besar seperti São Paulo dan Rio de Janeiro. Awalnya dipicu oleh kenaikan tarif transportasi, tetapi kemudian melebar menjadi isu korupsi dan pelayanan publik. Tiga tahun berselang, Presiden Dilma Rousseff yang tengah melakukan penertiban fiskal dipaksa turun lewat pemakzulan. Banyak analisis menyebut, elite politik yang tersangkut kasus korupsi turut mendanai dan menggerakkan protes demi menyelamatkan kepentingan mereka.

Fenomena serupa terjadi di Ukraina pada akhir 2013. Gerakan Euromaidan yang awalnya lahir dari aspirasi rakyat menuntut integrasi dengan Uni Eropa, berubah menjadi bentrokan panjang hingga berujung pada lengsernya Presiden Viktor Yanukovych pada Februari 2014. Sejumlah laporan investigasi menunjukkan adanya campur tangan oligarki lama yang ikut menyalurkan dana dan logistik untuk menjatuhkan lawan politik mereka. Korea Selatan pun pernah mengalami gelombang protes serupa. Skandal besar yang menyeret Presiden Park Geun-hye pada 2016 memicu demonstrasi berjilid-jilid di pusat Seoul. Meski lahir dari kemarahan rakyat, tak bisa dimungkiri ada pula kekuatan politik yang memanfaatkan momentum untuk mempercepat kejatuhan sang presiden.

Jika kita tarik ke Jakarta hari ini, kita harus jujur pada diri sendiri. Tidak semua orang yang turun ke jalan tulus menyuarakan aspirasi. Ada yang murni, tetapi ada pula yang ditunggangi. Publik perlu jeli membedakan, agar kerusuhan yang ditimbulkan segelintir orang tidak menenggelamkan suara sahih para buruh yang menuntut upah layak, maupun rakyat kecil yang sekadar ingin hidup lebih baik.

Sejarah Brasil, Ukraina, dan Korea Selatan menjadi pengingat bahwa kerusuhan jalanan hampir tidak pernah lahir dari ruang hampa. Selalu ada aktor, ada dana, dan ada agenda di baliknya. Tugas kita adalah memastikan bahwa suara rakyat yang tulus tidak ditenggelamkan oleh permainan elite yang panik mempertahankan kepentingan sempit, kepentingan yang kini sedang dibersihkan oleh Pemerintahan Prabowo karena praktik tersebut selama ini telah merugikan rakyat dan negara.

Namun, pemerintah juga tidak boleh berhenti pada narasi “ini ulah kelompok tertentu,” karena hal itu hanyalah separuh cerita. Separuh lainnya adalah keresahan nyata yang dirasakan rakyat: harga kebutuhan pokok yang tinggi, kesenjangan sosial yang melebar, serta kebijakan yang kerap terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Dr. Refly Harun, pakar hukum tata negara, pernah mengingatkan, “Jangan pernah meremehkan aspirasi rakyat kecil. Bila ruang aspirasi ditutup, maka jalanan akan menjadi panggung mereka.”

Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa suara rakyat yang tulus tidak ditenggelamkan oleh permainan elite yang panik mempertahankan kepentingannya. Kepentingan sempit itu kini tengah dibersihkan oleh Pemerintahan Prabowo, karena praktiknya selama ini terbukti merugikan rakyat dan negara.

Oleh : Ahmad Marzuki Hasan. Kontributor Independen Untuk Isu Sosial -Ekologis.

Klik tombol tindakan dibawah sesuai pilihanmu untuk membagikan informasi ini!